panti asuhan pondok si boncel

Howto get to Panti Asuhan Pondok Si Boncel by Train? Click on the Train route to see step by step directions with maps, line arrival times and updated time schedules. From Sekolah Bintara Depok, Depok 58 min; Bus stations near Panti Asuhan Pondok Si Boncel in Jakarta Selatan. Station Name: Distance: Jl.Desa Putra 3b: 3 min walk: Tahun2011 adalah tahun yang penuh berkat bagi kami semua, baik suster, karyawan maupun anak - anak di Panti Asuhan Pondok Si Boncel ini. Oleh karena itu, kami mengadakan Misa Syukur penutupan tahun 2011dan sekaligus untuk mengawali tahun 2012 maka pesta malam tahun baru bagi anak - anak Pondok Si Boncel adalah malam yang terindah bagi mereka. PantiAsuhan Pondok Si Boncel (Balita)Jl. Desa Putra No. 5 RT 01 RW 06, Lenteng Agung, Pasar Minggu,PO BOX 7712 JKS LA,Jakarta Selatan 12610,T elp. 7271014. Di bawah asuhan Suster OP (Dominikanes) 28. Panti Asuhan Vincentius PuteraJl. Kramat Raya No.134 Jakarta 10430T elp. 021 3909733, Fax. 021 3926026 29. Panti Asuhan Vincentius PuteriJl. PantiAsuhan Pondok Si Boncel - Jagakarsa - Jl. Boncel Jakarta Selatan Lihat semua 29 foto Panti Asuhan Pondok Si Boncel Penitipan Anak Jagakarsa, Jakarta Simpan Bagikan Tips 3 Foto 29 Lihat apa kata teman kamu tentang Panti Asuhan Pondok Si Boncel. PantiAsuhan Pondok Si Boncel merupakan panti asuhan khusus balita di bawah yayasan Vincentius yang berlokasi di Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan. Panti Asuhan Pondok Si Boncel didirikan pada 1 April 1972, didirikan untuk mengurus secara khusus anak-anak yatim piatu yang masih di bawah umur 7 (tujuh) tahun. Jeux En Ligne Pour Rencontrer Des Gens. Perhimpunan Vincentius Jakarta didirikan pada tanggal 29 Agustus 1855 dengan nama Dana Bantuan Santo Vincentius a Paulo di Batavia pada tahun 1909 diubah menjadi Batavia's Vereeniging oleh beberapa orang Katolik seperti Mgr. PM. Vrancken Vikaris Apostolik Djakarta, Pastor Van der Grinten Notaris JR. Klein, PA Toillez dan E. Van Polanen Petel. Notaris Kleijn yang menyiapkan akta pendirian dan memperoleh pengakuan dari pemerintah 1856, menjadi presiden pertama 1856-1859. Tujuan utama saat itu adalah membantu anak-anak keturunan Belanda Indo-Eropa yang menjadi masalah sosial di masyarakat. Usaha sosial ini awalnya lebih bersifat home-care, karena Perhimpunan Vincentius Jakarta belum memiliki rumah. Pada bulan April 1862 barulah diperoleh sebuah rumah sewa di Bazaar Baroe sekarang Pasar Baru yang hanya mampu menampung sekitar 25 anak puteri. Pada bulan April 1864 karena kekurangan biaya, masa sewa rumah tersebut tidak dapat diperpanjang. Syukurlah para Suster Ursulin bersedia menampung mereka di Biara Ursulin. Akhirnya pada tahun 1885 didirikan rumah khusus di Jalan Pos untuk menampung anak-anak itu. Bulan Nopember 1893 diperoleh rumah di Gang Kurni sekarang jalan Kwini, yang menampung 29 anak putera yang diasuh oleh para Pastor Jesuit SJ. Baru pada tahun 1910 sebuah rumah bisa dibangun di Jalan Kramat Raya Jakarta. Inilah permulaan berdirinya Kompleks Kramat Raya seperti sekarang ini. Maka mulailah anak-anak puteri maupun anak-anak putera dari kedua rumah terdahulu menempati rumah milik sendiri. Para Suster Ursulin yang telah mengurus mereka selama 46 tahun, ikut pindah ke Kramat Raya. Sesudah itu jumlah anak-anak bertambah terus. Tahun 1929 tugas para Pastor Jesuit dalam hal pendidikan anak-anak putera dialihkan kepada para Pastor Fransiskan OFM hingga sekarang. Bulan Oktober 1939, setelah berkarya di Kramat selama 28 tahun, para Suster Ursulin akhirnya pindah ke Bidaracina. 300 anak puteri bersama dengan 12 suster pindah dari kompleks Kramat ke rumah baru di Jalan Otto Iskandardinata 76, yang kini dikenal dengan nama Panti Asuhan Vincentius Puteri. Sedangkan anak putera tetap menempati kompleks Kramat, kini disebut Panti Asuhan Vincentius Putera. Tahun 1942-1945 keadaan menjadi kacau karena dalam masa penjajahan Jepang, para Pimpinan Panti, baik Pastor, Bruder maupun Suster Belanda masuk ke kamp-kamp tahanan. Sedangkan perumahannya digunakan oleh serdadu Jepang sebagai markas. Sementara anak-anak asuh dititipkan di Biara Ursulin dan diasuh oleh Suster-Suster Ursulin. Atas permintaan Pemerintah Indonesia, pada tanggal 30 Juni 1947 Perhimpunan Vincentius Jakarta mendirikan Panti Asuhan Desa Putera. Tujuannya untuk menampung anak-anak terlantar dan anak-anak gelandangan korban perang kemerdekaan. Panti ini dipercayakan kepada Bruder Budi Mulia BM dan menempati rumah di kompleks Srengseng Sawah, Pasar Minggu. Batavia's Vincentius Vereeniging secara resmi diubah menjadi Perhimpunan Vincentius Jakarta pada tanggal 31 Maret 1950. Sejak itu Panti Asuhan Vincentius memberi prioritas pelayanan kepada anak-anak yatim piatu dan terlantar, setelah itu barulah anak-anak yatim atau piatu maupun anak-anak dari keluarga broken home serta penyandang masalah sosial lainnya anak dari keluarga retak/miskin/sakit. Tahun 1972 Perhimpunan Vincentius Jakarta mendirikan rumah panti keempat, yakni Panti Asuhan Pondok Si Boncel di Jalan Raden Saleh Raya Panti ini khusus menampung anak-anak balita bawah lima tahun. Pengelolaannya dipercayakan kepada para Suster Dominikanes OP. Dengan semakin bertambahnya jumlah anak asuh dan terbatasnya daya tampung panti, maka pada tanggal 1 April 1981 Panti Asuhan Pondok Si Boncel pindah ke kompleks baru di Srengseng Sawah Pasar Minggu, yang lebih luas serta memadai. Berikut nama-nama Ketua Pengurus yang pernah berkarya pada Perhimpunan Vincentius Jakarta Tahun 1958-1971 DC. Inkiriwang Tahun 1971-1981 Drs. AR. Abdisa Tahun 1981-1983 DC. Inkiriwang Tahun 1983-1984 Drs. AR. Abdisa Tahun 1984-1992 AH. Trisnadi Tahun 1992-2001 Ir. PA. Sumardiman Tahun 2001-2008 Paulus Tjahjono Tahun 2008-2016 Yul Hendarto Tahun 2016-sekarang Taufik Hidayat Linggadjaja

panti asuhan pondok si boncel